PMN akan Suntikan Dana ke 9 BUMN Sebesar Rp 42,3 Triliun pada Tahun Depan

Redaksi

Pemerintah tahun depan akan menyuntikkan dana penyertaan modal negara (PMN) untuk badan usaha milik negara (BUMN) dengan total mencapai Rp 42,3 triliun.

Isa Rachmatarwata, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan menyampaikan, suntikan dana PMN 2021 untuk BUMN tersebut adalah sebagai bentuk modalitas dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dalam rangka penanganan pandemi Covid-19.

“Ini bukan sesuatu yang kami bedakan, karena ini bersifat sejalan dengan penyelenggaraan pemulihan ekonomi,” ujar Isa.

Dia mengatakan, ada sembilan perusahaan pelat merah yang akan mendapat kucuran dana PMN tahun depan. Diantaranya adalah, Sarana Multigriya Financial (SMF), PT Hutama Karya, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC), PT BPUI, PT Pelindo III, PT PAL Indonesia, PT Kawasan Industri Wijayakusuma, dan Indonesia Eximbank (LPEI).

Menurutnya, pemilihan sembilan BUMN itu tentunya melewati proses yang akuntabel dan sudah melalui evaluasi Kementerian BUMN maupun kementerian terkait lainnya. Sehingga, banyak BUMN yang telah mengajukan juga perlu dipertimbangkan lagi, mana yang perlu didukung terlebih dahulu proyek maupun idenya.

Dengan begitu, kucuran dana PMN tersebut bukan merupakan suatu pemborosan seperti cerita masa lalu. Walhasil di tahun depan, barang suntikan dana PMN ke BUMN akan terus dipantau perkembangan programnya, serta modal tersebut dipastikan akan digunakan semaksimal mungkin.

“Ini mungkin terkait dengan kejadian kecil di masa lalu, ada BUMN yang terima PMN tapi tidak bertahan, sehingga peran PMN hilang. Saya ingin tegaskan, pemberian PMN ke BUMN itu (kali ini) bukan kucuran dana yang hilang begitu saja,” terangnya.

Selain itu, kata Isa, tahun ini pemerintah juga mengucurkan dana PMM sebanyak Rp 2 triliun untuk PT Biofarma guna membiayai penyediaan obat-obatan dan vaksin penanganan Covid-19 serta pengembangan sarana pelayanan kesehatan.

“Dana Rp 2 triliun ini dipastikan untuk Biofarma semua,” tuturnya.

Sementara itu, Piter Abdullah selaku Ekonom Centre of Reform Economics (Core) Indonesia menambahkan, suntikan modal dari pemerintah untuk BUMN melalui PMN memang diperlukan untuk pemulihan ekonomi selama atau setelah pandemi Covid-19.

“Sebab di tahun mendatang, ekonomi tentu masih dalam proses pemulihan. Sehingga, Tentu sangat membutuhkan stimulus dari pemerintah, karena peran swasta masih akan terbatas,” ucap Piter.

Piter bilang, menyusul dampak pandemi Covid-19 yang begitu besar, dana PMN tahun depan memang sudah semestinya lebih tinggi dibandingkan dengan tahun ini.

“Apalagi, alokasi anggaran tersebut ditujukan untuk membangkitkan kembali BUMN, agar program-programnya tidak berhenti di tengah jalan. Harus diakui bahwa ada BUMN yang merugi, tetapi bukan berarti dibiarkan mati sehingga perlu upaya membangkitkannya,” jelasnya.

Sumber Kontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

TIMAH Resmi Jual Anak Usaha Rumah Sakit Sebesar Rp 63,2 Miliar

PT Timah Tbk (TINS) telah resmi menjual 67 persen saham PT Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) sebesar Rp 63 miliar kepada Holding Rumah Sakit, PT Pertamina Bina Medika (Pertamedika IHC). Wibisono selaku Direktur Keuangan PT Timah mengatakan, pihaknya telah menjual saham rumah sakit yang selama ini dimiliki perusahaan. “Sudah dijual, […]