Kembangkan SPKLU, PLN Buka Peluang Keterlibatan Swasta

Redaksi

Untuk mendukung pengembangan mobil listrik di Indonesia, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan infrastruktur kelistrikan terpenuhi. Dalam pengembangan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) sebagai charging station tak mungkin semua dikembangkan oleh PLN. Maka dari itu, PLN membuka peluang keterlibatan swasta untuk bisa mewujudkan rencana ini.

Zainal Arifin selaku Vice President Standarisasi dan Pengembangan Teknologi PLN mengatakan, sejak Oktober 2019 sebenarnya sudah memiliki roadmap pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan antara lain berisi proyeksi kebutuhan SPKLU hingga 2024. Namun karena pandemi, perusahaan merevisi roadmap ini.

“Roadmap sudah ada, dengan Permen (ESDM) ini, perlu direvisi lagi terkait bisnis model dan tarif. Juga adanya covid-19 proyek postpone,” jelasanya melalui acara webinar, Selasa (1/9).

Sebelumnya, PLN memprediksi SPKLU bakal bertambah dengan pesat setiap tahunnya. Rencana penambahan SPKLU pada tahun ini sebanyak 168 unit. Jumlahnya akan terus bertambah hingga mencapai 3.853 unit SPKLU pada tahun 2024.

“Kami sudah petakan berapa jumlah charging station (SPKLU) yang dibutuhkan setiap tahunnya, kami petakan lokasi dan kelayakan teknis,” ucapnya.

Setelah terbitnya Permen ESDM No. 13/2020, Zainal menyampaikan bahwa peta jalan tersebut perlu direvisi untuk menyesuaikan skema bisnis serta analisa kelayakan finansial dan teknis. Di dalam Permen tersebut mengatur bahwa PLN sebagai badan usaha SPKLU dan SPBKLU ditugaskan menyusun roadmap penyediaan infrastruktur SPKLU dan SPBKLU, antara lain memuat lokasi dan kapasitas pengisian, serta skema usaha SPKLU dan SPBKLU.

“Kebutuhan roadmap pengembangan paling lambat 6 bulan sejak Permen ditandatangani,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya mengundang berbagai badan usaha swasta untuk bekerjasama dalam membangun atau mengoperasikan fasilitas penggantian baterai (swap battery) tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa pemetaan potensi bisnis dan pasar harus sudah jelas. Karena tidak semua kendaraan listrik memerlukan swap battery.

Menurutnya, swap battery umumnya hanya diperlukan oleh kendaraan listrik, khususnya motor listrik yang mobilitasnya tinggi seperti untuk transportasi online.

“Intinya kami welcome, siapapun yang mau kolaborasi, nanti kita minta detail business plan seperti apa? sehingga nanti akan bisa dihitung seberapa besar efektivitas dari investasi tersebut,” imbunya.

Sumber Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

KAI Daop 1 Tambah Lagi Perjalanan Kereta pada September 2020

Pada September 2020, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta kembali menambah jumlah perjalanan hingga 41 KA. “Dari 41 perjalanan KA tersebut 20 KA berangkat dari Stasiun Gambir, 19 KA berangkat dari Pasar Senen, dan dua KA berangkat dari Stasiun Jakarta Kota,” ujar Kahumas KAI […]